Rabu, 04 November 2009

Tekan Biaya Pakan Ayam dengan Metionin Sintetis

Setelah petani menjerit akibat mahalnya pupuk. Kini giliran peternak ayam petelur gelisah karena harga pakan yang terus naik. Nilai tukar mata uang rupiah atas dolar kian melemah, diduga menjadi penyebab utama kenaikan tersebut. Karena sebagian besar bahan baku pakan ayam berasal dari impor.

Selama ini, diketahui ransum ayam berbahan baku utama tepung ikan. “ Hampir 80% tepung ikan diimpor dari Amerika Latin. Inilah yang membuat pakan ayam mahal,” ungkap Yan Heryadi saat presentasi disertasinya Efesiensi Penggunaan Ransum p ada Ayam Ras Petelur Melalui Perubahan Waktu Pemberian dan Kandungan Metionina, Senin(14/6), di Kampus IPB Darmaga.

Kondisi ini mempengaruhi mutu dan kuantitas produksi telur yang dihasilkan. Agar performans produksi telur tetap optimal, dapat ditempuh dengan cara suplementasi asam amino essensial pada ransum. “Meski metionina juga harus diimpor bila dibandingkan tepung ikan. Penggunaan metionina dapat menekan biaya pakan ayam,” lanjut Yan. Metionina merupakan salah satu asam amino essensial kritis dan menjadi pembatas kebutuhan asam amino lainnya. Metionina telah dibuat secara sintetis sehingga dapat disuplementasi untuk memenuhi jumlah tertentu metionina dalam ransum.

Hanya dengan pemberian metionina sintetis sedikit dapat menutupi kebutuhan asam amino metionin ayam yang diperoleh dari tepung ikan. Ambil contoh, standar ransum yang diberikan pada ayam sebanyak 120 g. Umumnya peternak di Indonesia cuma 95 g. Untuk itu perlu dipadatkan gizinya, yaitu dengan penambahan metionina sintetis. Sehingga gizi dalam ransum setara

Ditanya mengenai efek negatif metionina sintetis Pria kelahiran Padang, 14 Januari 1964 ini menjawab,” Sejauh ini metionina sintetis tidak ada efek negatifnya pada kesehatan manusia. ” Metionina yang digunakan dalam penelitian pria yang baru saja meraih gelar doktor Ilmu Ternak ini bermerk JJ Degussa produksi Jerman.

Disamping pemberian metionina, waktu pemberian ransum juga dapat menekan biaya pakan ternak. Waktu pemberian ransum pukul 08.00, 18.00 dan 04.00 bisa diterapkan sesuai dengan kondisi waktu yang dimiliki peternak. Namun pemberian ransum pukul 04.00 tidak dianjurkan, karena menghasilkan konversi ransum yang lebih jelek. Pada waktu ransum pukul 04.00 juga dihasilkan telur yang memiliki kulit kerabang tipis. Hal ini dikarenakan ayam pada waktu itu sedang banyak-banyaknya berespirasi.

Penelitian yang dilakukan Yan, terbagi menjadi dua percobaan. Percobaan I, menentukan ransum basal ( ransum menghasilkan performans tertinggi) dan asam amino yang mengalami kekurangan dalam ransum untuk disuplementasi. Dari analisis regresi hubungan level protein dan peubah diperoleh konsumsi ransum tertinggi/basal saat kandungan protein 17.1 %, produksi hen day 74.54 %/ekor/hari dan masa telur 39.86 g/hari . Selain menekan biaya pakan ayam, jumlah konsentrasi protein yang ditambahkan, secara signifikan mempengaruhi produksi hen day, massa telur, konversi ransum, dan tebal kerabang telur. Hasil ana lisa kimia ternyata pada ransum basal tersebut menunjukkan kandungan metionina pada level itu lebih rendah dari kebutuhan metabolisme ayam.

Sedangkan percobaan II bertujuan untuk menentukan konsentrasi asam amino yang ditambahkan (metionina). Dari pengujian lima level metionina ransum, ternyata pada intake metionina 455 mg/ekor/hari, pada level metionina ransum 0.38% dengan rasio energi/metionina 0.7, paling efesien menghasilkan produksi telur terbaik.

Menurut pria yang saat ini aktif sebagai staf pengajar di Universitas Andalas Padang, sangat dianjurkan bagi peternak ayam ras telur untuk memberikan ransum yang mengandung protein 17.1% dengan level metionina 0.38%/kg (rasio energi/metionina) dan intake metionina 455 mg/ekor/hari. and/ris


Sumber:
http://www.poultryindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar